Gaza, 23 September 2026 – Jumlah korban tewas di Jalur Gaza sejak pecahnya perang pada Oktober 2023 dilaporkan meningkat menjadi 73.919 orang. Angka tersebut berdasarkan pembaruan Kementerian Kesehatan di Gaza pada Selasa, 22 September 2026. Selain korban meninggal, sebanyak 174.977 orang dilaporkan mengalami luka-luka sepanjang periode konflik. Dalam 24 jam terakhir, rumah sakit di Gaza menerima lima jenazah dan 25 korban luka. Dari lima korban meninggal tersebut, empat merupakan korban baru, sedangkan satu lainnya meninggal akibat luka yang diderita sebelumnya.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut jumlah korban masih berpotensi bertambah karena terdapat warga yang belum dapat dievakuasi. Sejumlah korban dilaporkan masih berada di bawah reruntuhan bangunan maupun di sejumlah lokasi yang sulit dijangkau. Tim ambulans dan penyelamat menghadapi keterbatasan dalam mencapai seluruh titik tersebut. Kondisi infrastruktur yang rusak juga menjadi tantangan dalam proses pencarian dan evakuasi. Karena itu, angka korban yang diumumkan merupakan jumlah yang telah tercatat oleh otoritas kesehatan hingga pembaruan terakhir.
Data terbaru juga mencatat korban setelah kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober 2025. Sejak periode tersebut, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 1.399 orang tewas dan 4.863 lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, sebanyak 834 jenazah telah ditemukan dan dievakuasi dari bawah reruntuhan. Proses pencarian masih dilakukan karena belum seluruh kawasan yang mengalami kerusakan dapat dijangkau. Situasi tersebut membuat pendataan korban terus diperbarui seiring ditemukannya korban tambahan.
Meski gencatan senjata telah mengurangi skala pertempuran dibandingkan periode sebelumnya, insiden kekerasan masih dilaporkan terjadi di Gaza. Pada Selasa, serangan pesawat nirawak Israel dilaporkan menewaskan warga di kawasan Tuffah, timur laut Kota Gaza. Penembakan dan serangan lainnya juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah di utara, tengah, dan selatan Jalur Gaza. Israel dan Hamas sebelumnya saling menuduh melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Situasi tersebut membuat kondisi keamanan bagi penduduk Gaza tetap tidak stabil.
Dampak perang juga masih terlihat dari kondisi bangunan tempat tinggal di Gaza. Pada 16 September, sebuah bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan runtuh di Kota Gaza dan menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk 11 anak-anak dan lima perempuan. Sedikitnya 14 orang lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa tersebut. Enam keluarga Palestina dilaporkan tinggal di bangunan itu meskipun kondisinya sudah tidak stabil karena terbatasnya alternatif tempat tinggal. Tim penyelamat bahkan harus melakukan pencarian di antara reruntuhan dengan peralatan terbatas.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap warga tidak hanya berasal dari serangan langsung. Bangunan yang mengalami kerusakan selama perang dapat menjadi risiko tambahan bagi keluarga yang masih menggunakannya sebagai tempat berlindung. Rekonstruksi dalam skala besar belum berjalan meskipun gencatan senjata telah berlangsung hampir setahun. Israel menyatakan pembangunan kembali secara luas tidak akan diizinkan sebelum Hamas melucuti senjata. Sementara itu, banyak penduduk Gaza masih bergantung pada bantuan kemanusiaan dan tempat penampungan sementara.
Perang Gaza bermula setelah serangan yang dipimpin Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023. Sekitar 1.200 orang di Israel tewas dalam serangan tersebut menurut angka resmi Israel, sementara 251 orang dibawa sebagai sandera ke Gaza. Israel kemudian melancarkan operasi militer berskala besar di Jalur Gaza. Konflik berkepanjangan itu mengakibatkan kerusakan luas pada kawasan permukiman dan infrastruktur sipil. Korban di Gaza kemudian terus meningkat hingga melampaui 73 ribu orang menurut catatan Kementerian Kesehatan setempat.
Angka korban dari Kementerian Kesehatan Gaza digunakan secara luas oleh lembaga internasional dan organisasi kemanusiaan, meskipun kementerian tersebut berada di bawah pemerintahan Gaza yang dipimpin Hamas. Data itu tidak membedakan secara keseluruhan antara warga sipil dan kombatan dalam jumlah korban tewas. Kementerian menyatakan perempuan dan anak-anak mencakup sekitar separuh dari korban. Sejumlah lembaga internasional selama perang menggunakan data kementerian sebagai salah satu rujukan untuk memantau skala korban. Namun, jumlah akhir dapat berubah seiring proses identifikasi dan penemuan jenazah yang masih berlangsung.
Di tengah kondisi tersebut, tekanan terhadap layanan kesehatan dan penyelamatan di Gaza masih menjadi perhatian. Rumah sakit harus menangani korban baru sekaligus pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan akibat luka dari serangan sebelumnya. Tim penyelamat juga masih menghadapi tugas menemukan korban yang tertimbun di kawasan yang mengalami kerusakan berat. Keterbatasan alat berat dan kondisi sejumlah wilayah membuat proses tersebut berlangsung lambat. Situasi kemanusiaan pun tetap menjadi salah satu persoalan utama hampir tiga tahun setelah perang dimulai.
Dengan pembaruan terakhir tersebut, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 73.919 orang meninggal dan 174.977 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023. Angka itu menggambarkan korban yang telah masuk dalam pencatatan resmi hingga 22 September 2026 dan masih dapat bertambah. Sebagian korban dilaporkan belum dapat ditemukan karena tertimbun reruntuhan atau berada di daerah yang sulit dijangkau tim penyelamat. Di saat bersamaan, insiden serangan masih dilaporkan meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada keberlangsungan gencatan senjata, akses kemanusiaan, serta kemampuan tim medis dan penyelamat menjangkau seluruh wilayah Gaza.