Jakarta, 26 Mei 2026 – Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama dunia di tengah memudarnya harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai cepat antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian geopolitik yang kembali meningkat membuat investor mulai kembali mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika. Sebelumnya, pasar sempat optimistis bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah akan segera mereda setelah muncul sinyal pembicaraan mengenai pembukaan kembali jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz. Harapan tersebut sempat menekan harga minyak dunia dan memperbaiki sentimen pasar global. Namun perkembangan terbaru, termasuk adanya aksi militer baru dan pernyataan pejabat tinggi AS mengenai proses negosiasi yang masih membutuhkan waktu, membuat optimisme pasar kembali melemah.
Penguatan dolar terjadi setelah investor menilai risiko ketidakpastian global masih cukup tinggi sehingga permintaan terhadap mata uang safe haven kembali meningkat. Indeks dolar AS dilaporkan bergerak naik tipis terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, sementara euro dan poundsterling mengalami tekanan terbatas pada perdagangan internasional. Yen Jepang juga kembali menjadi perhatian pasar karena pergerakannya mendekati level sensitif yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang. Para analis menilai perubahan sentimen pasar sangat dipengaruhi perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah karena kawasan tersebut memiliki peran penting dalam jalur distribusi energi global. Ketika peluang perdamaian terlihat mengecil, pasar langsung merespons dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan dampaknya terhadap inflasi dunia.
Di sisi lain, harga minyak dunia yang sebelumnya sempat turun kembali mengalami kenaikan setelah muncul kekhawatiran bahwa ketegangan antara AS dan Iran belum benar-benar mereda. Pasar energi global sangat sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz karena jalur tersebut menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak internasional. Ketidakpastian mengenai keamanan distribusi energi membuat investor memperkirakan tekanan inflasi global masih dapat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat kemungkinan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam waktu lebih panjang. Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik dan potensi suku bunga tinggi inilah yang menjadi salah satu faktor pendukung penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir.
Pengamat pasar keuangan menilai bahwa pergerakan dolar saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor geopolitik, tetapi juga kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat yang masih relatif kuat dibanding sejumlah negara lain. Data pertumbuhan ekonomi dan ketahanan konsumsi masyarakat AS dinilai masih memberikan dukungan terhadap mata uang tersebut. Selain itu, pasar juga terus memantau arah kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan tetap berhati-hati terhadap risiko inflasi akibat kenaikan harga energi global. Situasi ini membuat banyak investor memilih menempatkan dana pada aset dolar sambil menunggu kepastian perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran. Para analis memperingatkan bahwa volatilitas pasar kemungkinan masih akan tinggi selama belum ada kepastian mengenai penyelesaian konflik dan pembukaan jalur perdagangan energi secara penuh.
Bagi negara berkembang, penguatan dolar AS dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar mata uang lokal dan biaya impor, terutama untuk komoditas energi. Oleh karena itu, banyak bank sentral di berbagai negara kini memantau pergerakan pasar global dengan lebih waspada guna menjaga stabilitas ekonomi domestik. Di Indonesia sendiri, pelaku pasar juga memperhatikan dampak pergerakan dolar terhadap rupiah, harga bahan bakar, serta arus modal asing di pasar keuangan nasional. Ketidakpastian global yang terus berlangsung membuat investor cenderung bergerak hati-hati dalam mengambil keputusan investasi jangka pendek. Selama negosiasi damai AS-Iran belum mencapai titik terang, pasar diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan dolar AS tetap berada dalam posisi yang relatif kuat di pasar internasional.