Jakarta, 1 Oktober 2026 – PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) mencatat volume angkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Khusus (BBK) mencapai 2,1 juta ton hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang berada di kisaran 2 juta ton. Pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas distribusi energi menggunakan layanan logistik berbasis kereta api tetap terjaga. KAI Logistik juga terus memperkuat layanan pendukung untuk menjaga kelancaran rantai pasok energi nasional.
Memasuki semester II 2026, pertumbuhan juga terlihat pada layanan pra dan purna angkutan BBM dan BBK. Kinerjanya tercatat meningkat lebih dari 10 persen dibandingkan rata-rata pada semester I 2026. VP of Commercial KAI Logistik Ferdian Pardosi mengatakan perkembangan tersebut mencerminkan kebutuhan terhadap layanan penunjang logistik energi yang tetap kuat. Layanan pra dan purna menjadi bagian yang saling terhubung dengan proses pengangkutan dan distribusi komoditas energi.
KAI Logistik mulai menjalankan layanan pra dan purna angkutan BBM dan BBK pada 2020. Kegiatannya mencakup bongkar muat, pemeliharaan dan perawatan ketel, pencucian dan kalibrasi ketel hingga penanganan klaim susut. Rangkaian pekerjaan tersebut diperlukan untuk memastikan sarana angkutan siap digunakan sesuai standar operasional. Dengan sistem yang terintegrasi, proses pengiriman dapat dilakukan mulai dari persiapan hingga penanganan setelah pengangkutan selesai.
Saat ini layanan pra dan purna BBM serta BBK tersedia pada 10 rute distribusi yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra. Sejumlah titik yang masuk dalam jaringan tersebut antara lain Labuan, Kertapati, Maos, Cilacap, Rewulu, Madiun, Benteng, dan Malang. Jaringan ini memungkinkan perusahaan melayani sejumlah wilayah yang memiliki peran dalam rantai distribusi energi. Keberadaan rute tersebut sekaligus mendukung integrasi pengangkutan BBM dan BBK melalui moda kereta api.
Selain mengejar peningkatan volume, aspek kualitas dan keamanan menjadi bagian penting dari operasional angkutan energi. Pencucian dan kalibrasi ketel dilakukan untuk memastikan sarana pengangkutan berada dalam kondisi sesuai standar, sedangkan kegiatan pemeliharaan ditujukan menjaga kesiapan operasional. Pengelolaan tersebut penting mengingat BBM dan BBK merupakan komoditas yang digunakan untuk berbagai kebutuhan strategis. Ketepatan penanganan pada setiap tahap distribusi diperlukan untuk menjaga keandalan pasokan hingga mencapai titik tujuan.
Penggunaan kereta api untuk mengangkut berbagai komoditas juga menjadi bagian dari pengembangan bisnis logistik KAI. Selain BBM dan BBK, jaringan kereta barang digunakan untuk mendistribusikan komoditas lain sesuai kebutuhan industri. Pada sektor perkebunan, misalnya, KAI mencatat angkutan 374.098 ton selama Januari hingga Juli 2026, meningkat 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penguatan angkutan barang tersebut menunjukkan peran jaringan perkeretaapian dalam menghubungkan pusat produksi, kawasan industri, dan titik distribusi.
KAI Logistik menyatakan akan terus mengembangkan sistem distribusi energi yang efisien, terstandarisasi, dan berkelanjutan. Penguatan layanan pra dan purna diharapkan membuat setiap mata rantai distribusi BBM dan BBK dapat berjalan lebih optimal. Dengan volume mencapai 2,1 juta ton hingga Agustus 2026, perusahaan menargetkan layanan logistik berbasis kereta tetap menjadi salah satu pendukung distribusi energi antarwilayah. Pertumbuhan tersebut sekaligus menjadi dasar bagi penguatan kapasitas dan keandalan layanan pada periode berikutnya.