Jakarta, 11 September 2026 – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mendorong Pertamina memperkuat kemandirian energi nasional dengan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. Dorongan tersebut menempatkan optimalisasi sumber energi domestik sebagai salah satu strategi penting, terutama melalui peningkatan pemanfaatan gas bumi yang tersedia di dalam negeri. Pengembangan jaringan gas rumah tangga atau jargas serta pemanfaatan compressed natural gas atau CNG menjadi bagian dari pilihan yang dinilai dapat membantu menekan kebutuhan terhadap energi impor. Strategi tersebut juga membutuhkan penguatan infrastruktur agar produksi gas domestik dapat tersambung secara efektif dengan pusat-pusat permintaan. Pertamina sebagai perusahaan energi nasional memiliki posisi strategis karena terlibat mulai dari pengelolaan sumber energi hingga distribusi kepada konsumen. Dalam jangka panjang, pengurangan impor diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi tekanan yang muncul akibat fluktuasi harga energi internasional.
Dorongan menuju kemandirian energi berkaitan dengan besarnya kebutuhan Indonesia terhadap sejumlah produk energi yang masih harus dipenuhi dari pasar internasional. Pertumbuhan konsumsi masyarakat, industri, transportasi, dan berbagai aktivitas ekonomi membuat permintaan energi terus membutuhkan pasokan yang besar dan stabil. Ketika sebagian kebutuhan tersebut berasal dari impor, perubahan harga minyak dan gas internasional dapat memengaruhi biaya yang harus ditanggung di dalam negeri. Pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor karena sebagian transaksi energi internasional menggunakan dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat pengurangan impor memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar persoalan pasokan. Peningkatan penggunaan energi domestik dapat membantu memperkuat ketahanan ekonomi apabila dilakukan dengan tetap mempertimbangkan efisiensi dan keberlanjutan pasokan.
Jaringan gas rumah tangga menjadi salah satu instrumen yang dapat diperluas untuk meningkatkan penggunaan gas bumi secara langsung oleh masyarakat. Melalui jargas, gas dapat disalurkan menggunakan jaringan pipa menuju rumah tangga sehingga konsumen memperoleh alternatif energi selain LPG. Pengembangan sistem tersebut membutuhkan investasi infrastruktur yang cukup besar karena jaringan harus dibangun hingga mendekati kawasan permukiman. Ketersediaan sumber gas dan jarak antara produksi dengan konsumen juga menentukan kelayakan pembangunan di setiap wilayah. Karena itu, pengembangan jargas perlu dilakukan berdasarkan pemetaan pasokan dan kebutuhan secara terintegrasi. Apabila jaringan dapat diperluas secara ekonomis, konsumsi gas domestik berpotensi meningkat dan sebagian kebutuhan terhadap produk energi impor dapat ditekan.
Selain jargas, CNG menjadi alternatif yang diperhatikan karena memungkinkan gas bumi didistribusikan dalam bentuk terkompresi. Pendekatan tersebut dapat digunakan pada wilayah yang belum memiliki jaringan pipa langsung tetapi berada dalam jangkauan distribusi yang memungkinkan. Gas dikompresi pada tekanan tinggi sehingga volumenya menjadi lebih kecil dan dapat diangkut menuju lokasi konsumen menggunakan fasilitas khusus. Setelah sampai di lokasi tujuan, gas dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi sesuai infrastruktur yang tersedia. Model ini dapat menjadi solusi transisi sebelum jaringan pipa permanen tersedia atau pada kawasan yang pembangunan pipanya kurang ekonomis. Pemanfaatan CNG yang semakin luas juga berpotensi meningkatkan penyerapan produksi gas dalam negeri.
Penggunaan gas domestik untuk menggantikan sebagian LPG menjadi salah satu peluang yang mendapat perhatian dalam strategi tersebut. Indonesia memiliki sumber daya gas, tetapi pemanfaatannya membutuhkan infrastruktur yang mampu membawa pasokan dari lokasi produksi menuju konsumen. Tantangan geografis menjadi faktor penting karena sumber gas dan pusat permintaan tidak selalu berada pada wilayah yang sama. Pembangunan jaringan pipa, fasilitas pengolahan, penyimpanan, transportasi CNG, serta berbagai infrastruktur pendukung perlu dikembangkan secara terkoordinasi. Tanpa konektivitas yang memadai, ketersediaan produksi domestik tidak otomatis dapat menggantikan kebutuhan energi impor. Karena itu, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu kunci agar gagasan kemandirian energi dapat diterjemahkan menjadi pengurangan impor secara nyata.
Pertamina memiliki peranan besar dalam proses tersebut karena kegiatan bisnis perusahaan mencakup berbagai bagian rantai energi nasional. Penguatan produksi domestik perlu berjalan bersamaan dengan peningkatan kapasitas pengolahan dan distribusi sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan. Perusahaan juga perlu memastikan proyek yang dikembangkan memiliki kelayakan ekonomi dan mampu memberikan pasokan dengan harga yang kompetitif. Pengurangan impor secara drastis tanpa kesiapan pasokan pengganti dapat menciptakan risiko terhadap ketersediaan energi. Oleh sebab itu, transisi menuju pemanfaatan sumber domestik perlu dilakukan secara bertahap dengan memperhitungkan pertumbuhan permintaan. Kepastian pasokan menjadi faktor utama karena energi merupakan kebutuhan penting bagi rumah tangga maupun kegiatan ekonomi.
Danantara sebagai pengelola investasi dan aset negara memiliki ruang untuk mendorong perusahaan BUMN meningkatkan efisiensi sekaligus mengembangkan investasi strategis. Dalam sektor energi, investasi dapat diarahkan pada proyek yang memperkuat rantai pasok domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber dari luar negeri. Namun, setiap proyek tetap membutuhkan perhitungan terhadap tingkat pengembalian, kebutuhan modal, risiko operasional, serta manfaat ekonomi yang dihasilkan. Jargas dan CNG dapat menjadi bagian dari portofolio tersebut apabila memiliki pasokan yang jelas dan pasar yang cukup besar. Koordinasi antara Pertamina, pemerintah, Danantara, serta pemangku kepentingan lain menjadi penting karena pembangunan infrastruktur energi membutuhkan perencanaan jangka panjang. Kebijakan yang konsisten juga diperlukan agar investasi dapat dilakukan dengan tingkat kepastian yang memadai.
Upaya mengurangi impor energi juga dapat memberikan pengaruh terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan devisa Indonesia. Pembelian energi dari luar negeri membutuhkan pembayaran dalam valuta asing sehingga peningkatan impor dapat menambah permintaan terhadap dolar. Apabila sebagian konsumsi dapat digantikan menggunakan produksi domestik, kebutuhan devisa untuk membeli energi berpotensi berkurang. Namun, manfaat tersebut tetap harus dibandingkan dengan biaya pembangunan infrastruktur dan investasi yang diperlukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Kemandirian energi tidak berarti seluruh kebutuhan harus diproduksi sendiri tanpa mempertimbangkan efisiensi ekonomi. Pendekatan yang lebih realistis adalah memaksimalkan sumber domestik yang kompetitif sambil mempertahankan fleksibilitas pasokan ketika kebutuhan belum dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Pengembangan jargas dan CNG juga membutuhkan kepastian dari sisi konsumen agar infrastruktur yang dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal. Jaringan dengan jumlah pelanggan rendah berpotensi membuat biaya per pengguna menjadi tinggi sehingga mengurangi kelayakan proyek. Karena itu, kawasan dengan kepadatan penduduk atau kebutuhan energi yang besar dapat menjadi prioritas dalam pengembangan jaringan. Untuk sektor industri, kepastian volume penggunaan menjadi penting agar fasilitas distribusi memiliki tingkat pemanfaatan yang memadai. Standar keselamatan juga harus menjadi bagian utama karena distribusi gas membutuhkan sistem pengawasan dan pemeliharaan yang ketat. Dengan perencanaan tersebut, ekspansi penggunaan gas dapat dilakukan tanpa mengabaikan keamanan maupun keekonomian.
Dorongan Danantara kepada Pertamina untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor pada akhirnya membutuhkan perubahan menyeluruh dari sisi produksi hingga konsumsi energi. Optimalisasi gas bumi domestik melalui jargas dan CNG menawarkan salah satu jalur untuk menggantikan sebagian energi yang selama ini bergantung pada pasokan luar negeri. Namun, keberhasilannya ditentukan oleh ketersediaan sumber gas, pembangunan infrastruktur, keekonomian proyek, kesiapan distribusi, dan kemampuan menarik konsumen dalam jumlah memadai. Pertamina memiliki posisi penting untuk mengintegrasikan berbagai bagian rantai tersebut, sedangkan Danantara dapat mendorong investasi dan transformasi perusahaan agar berjalan lebih efektif. Pengurangan impor juga harus dilakukan secara terukur sehingga tidak menimbulkan gangguan pasokan bagi masyarakat maupun industri. Jika produksi domestik dan infrastruktur dapat diperkuat secara konsisten, pemanfaatan jargas serta CNG berpotensi menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia menuju ketahanan dan kemandirian energi yang lebih kuat.