Jakarta, 15 Oktober 2026 – Berbagai informasi mengenai makanan yang disebut dapat memicu kanker masih banyak beredar di masyarakat, termasuk anggapan bahwa monosodium glutamat (MSG) dan susu kedelai berbahaya bagi kesehatan. Kedua bahan pangan tersebut kerap menjadi perbincangan karena dianggap memiliki kandungan yang dapat memengaruhi perkembangan sel kanker. Namun, hubungan antara konsumsi makanan tertentu dan risiko kanker tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan informasi yang beredar tanpa dukungan penelitian ilmiah. Para ahli kesehatan menekankan pentingnya memahami faktor risiko kanker secara menyeluruh, termasuk pola makan, gaya hidup, dan kondisi kesehatan seseorang. Hingga kini, tidak terdapat bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa konsumsi MSG atau susu kedelai dalam jumlah wajar secara langsung menyebabkan kanker pada manusia.
MSG merupakan bahan tambahan pangan yang digunakan untuk meningkatkan rasa gurih atau umami pada makanan. Zat ini mengandung glutamat, yaitu senyawa yang juga ditemukan secara alami dalam berbagai bahan pangan seperti tomat, jamur, dan keju. Penggunaan MSG dalam makanan telah melalui berbagai evaluasi keamanan oleh lembaga kesehatan dan pengawas pangan. Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, konsumsi MSG dalam jumlah yang lazim digunakan pada makanan tidak terbukti menjadi penyebab kanker. Meski demikian, masyarakat tetap dianjurkan menjaga pola makan seimbang dan tidak menggunakan bahan penyedap secara berlebihan.
Kekhawatiran mengenai MSG sering muncul karena adanya anggapan bahwa bahan tambahan pangan sintetis selalu lebih berbahaya dibandingkan bahan alami. Padahal, keamanan suatu zat ditentukan oleh karakteristik kimia, jumlah paparan, serta hasil penelitian terhadap dampaknya bagi tubuh. Glutamat dari MSG diproses tubuh melalui mekanisme yang pada dasarnya sama dengan glutamat yang terdapat secara alami dalam makanan. Sejumlah penelitian juga telah mengevaluasi berbagai dugaan dampak kesehatan akibat konsumsi MSG. Namun, hasil penelitian tersebut tidak mendukung kesimpulan bahwa penggunaan MSG pada tingkat konsumsi normal dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
Sementara itu, susu kedelai sering dikaitkan dengan risiko kanker karena mengandung isoflavon, yaitu senyawa alami dari kelompok fitoestrogen. Isoflavon memiliki struktur yang menyerupai hormon estrogen, tetapi aktivitas biologisnya tidak sama dengan hormon estrogen yang diproduksi tubuh manusia. Kemiripan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konsumsi kedelai dapat meningkatkan risiko kanker yang berkaitan dengan hormon, terutama kanker payudara. Akan tetapi, penelitian pada manusia secara umum tidak menunjukkan bahwa konsumsi makanan berbahan kedelai dalam jumlah wajar meningkatkan risiko kanker payudara. Sejumlah penelitian observasional bahkan menemukan hubungan antara konsumsi kedelai dan risiko kanker payudara yang lebih rendah, meskipun hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan adanya efek perlindungan langsung.
Penelitian mengenai kedelai juga menunjukkan pentingnya membedakan konsumsi makanan utuh dengan penggunaan suplemen isoflavon berkonsentrasi tinggi. Susu kedelai, tahu, tempe, dan edamame merupakan bahan pangan yang dapat menjadi sumber protein nabati dalam pola makan sehari-hari. Sebaliknya, suplemen isoflavon dapat mengandung dosis senyawa aktif yang jauh lebih tinggi dibandingkan makanan biasa. Keamanan penggunaan suplemen tersebut, terutama pada orang dengan riwayat kanker tertentu, masih memerlukan pertimbangan medis. Oleh karena itu, konsumsi makanan berbahan kedelai tidak dapat disamakan dengan penggunaan suplemen hormon atau ekstrak isoflavon dosis tinggi.
American Cancer Society
+1
Risiko kanker sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan dan tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan. Faktor genetik, pertambahan usia, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, berat badan berlebih, serta kurangnya aktivitas fisik dapat berperan dalam perkembangan sejumlah jenis kanker. Pola makan yang kurang beragam juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Karena itu, upaya pencegahan kanker lebih tepat dilakukan melalui pendekatan menyeluruh dibandingkan menghindari bahan makanan tertentu tanpa alasan ilmiah yang jelas. Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua informasi mengenai makanan pemicu kanker memiliki dasar penelitian yang kuat.
Dalam memilih makanan sehari-hari, masyarakat dianjurkan memperhatikan kandungan gizi dan cara pengolahannya. Susu kedelai tanpa tambahan gula berlebihan dapat menjadi salah satu pilihan minuman sumber protein nabati, terutama bagi orang yang tidak mengonsumsi susu sapi. Sementara itu, penggunaan MSG dapat disesuaikan dengan kebutuhan rasa tanpa mengabaikan asupan natrium secara keseluruhan. Konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang beragam tetap menjadi bagian penting dari pola makan sehat. Kebiasaan tersebut lebih bermanfaat dibandingkan hanya berfokus pada anggapan bahwa satu bahan makanan tertentu menjadi penyebab utama kanker.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap informasi kesehatan yang menyebar melalui media sosial dan pesan berantai. Klaim bahwa makanan tertentu dapat menyebabkan atau menyembuhkan kanker sering kali disampaikan tanpa penjelasan mengenai metode penelitian dan tingkat kekuatan buktinya. Hasil percobaan pada hewan atau sel di laboratorium tidak selalu memberikan dampak yang sama ketika diterapkan pada manusia. Karena itu, informasi kesehatan perlu dipahami berdasarkan keseluruhan hasil penelitian, bukan hanya satu temuan yang menarik perhatian. Bagi pasien kanker atau orang yang memiliki kondisi medis khusus, perubahan pola makan dan penggunaan suplemen sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, anggapan bahwa MSG dan susu kedelai secara langsung memicu kanker tidak memiliki dukungan penelitian yang meyakinkan. Kedua bahan tersebut pada umumnya dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang dengan memperhatikan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing individu. Masyarakat tidak perlu menghindari seluruh makanan berbahan kedelai hanya karena kekhawatiran terhadap kandungan fitoestrogen. Demikian pula, MSG tidak perlu dianggap sebagai zat penyebab kanker ketika digunakan dalam jumlah yang lazim pada makanan. Pemahaman berbasis bukti ilmiah diharapkan membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menjaga kesehatan dan mengurangi risiko penyakit kanker.