Paris, 16 Oktober 2026 – Serangan siber berskala besar mengguncang industri ritel Prancis setelah peretas berhasil mengambil alih sistem pendingin di ratusan supermarket yang tersebar di berbagai wilayah negara tersebut. Para pelaku memanipulasi pengaturan suhu lemari pendingin dan freezer hingga mencapai 50 derajat Celsius, menyebabkan makanan segar serta produk beku mengalami kerusakan. Insiden yang mulai terdeteksi pada Minggu malam, 11 Oktober 2026, itu berdampak pada sejumlah jaringan supermarket besar, termasuk Carrefour, Intermarché, Monoprix, dan Coopérative U. Kerugian akibat serangan diperkirakan mencapai puluhan juta euro atau setara ratusan miliar rupiah, meskipun nilai keseluruhan masih dalam proses penghitungan. Pemerintah Prancis kini melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku sekaligus mencegah serangan serupa terhadap fasilitas penting lainnya.
Serangan tersebut terjadi ketika peretas memperoleh akses ke sistem pengendali pendingin yang terhubung dengan jaringan internet. Melalui akses tersebut, pelaku mengubah pengaturan suhu dan mengaktifkan proses pencairan es secara tidak semestinya sehingga peralatan yang seharusnya menjaga makanan tetap dingin justru mengalami peningkatan temperatur ekstrem. Beberapa perangkat dilaporkan mencapai suhu 50 derajat Celsius selama berjam-jam, membuat daging, produk susu, makanan beku, serta berbagai bahan pangan lainnya tidak lagi aman untuk dikonsumsi. Kondisi tersebut memaksa pengelola supermarket membuang persediaan makanan dalam jumlah besar untuk menghindari risiko kesehatan konsumen. Selain menyebabkan kerusakan bahan pangan, serangan juga dilaporkan memicu insiden kebakaran pada sejumlah perangkat pendingin. Situasi ini memperlihatkan bahwa serangan digital dapat menimbulkan kerusakan fisik yang berdampak langsung terhadap operasional bisnis.
Dampak serangan meluas ke berbagai jaringan ritel dengan jumlah toko terdampak yang terus diperbarui selama proses pemeriksaan. Pada tahap awal, sedikitnya 350 supermarket diketahui mengalami gangguan sistem pendingin, sementara pemerintah Prancis kemudian menyebut sekitar 700 dari 10.000 supermarket di negara tersebut terdampak serangan. Jaringan Intermarché menjadi salah satu korban terbesar dengan ratusan gerai mengalami gangguan pada fasilitas penyimpanan makanan. Carrefour juga melaporkan puluhan toko terdampak, sedangkan Monoprix dan Coopérative U menghadapi persoalan serupa di sejumlah lokasi. Beberapa supermarket terpaksa menghentikan sementara aktivitas penjualan untuk membersihkan fasilitas pendingin dan memeriksa kondisi produk. Pengelola toko juga harus melakukan penggantian stok secara bertahap sebelum operasional dapat kembali berjalan normal.
Besarnya kerugian menjadi perhatian serius karena serangan tersebut merusak barang dagangan yang memiliki masa penyimpanan terbatas. Presiden Les Mousquetaires, Thierry Cotillard, memperkirakan kerugian industri ritel akibat serangan dapat mencapai puluhan juta euro secara nasional. Nilai tersebut mencakup makanan yang harus dimusnahkan, gangguan kegiatan perdagangan, serta biaya pemulihan peralatan pendingin. Salah satu supermarket Intermarché di wilayah Normandia bahkan dilaporkan kehilangan persediaan makanan senilai sekitar 112.000 dolar AS setelah sistem pendinginnya mengalami gangguan. Kerugian tersebut memperlihatkan bahwa satu toko saja dapat menanggung dampak finansial yang sangat besar ketika seluruh rantai pendinginan terganggu. Selain kerusakan produk, perusahaan juga harus menghadapi kemungkinan kehilangan pendapatan akibat penutupan sementara dan keterlambatan distribusi barang.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa peretas memanfaatkan kelemahan keamanan pada perangkat pengendali pendingin yang menggunakan perangkat lunak dari Danfoss, Copeland, dan Dixell. Sebagian perangkat yang terdampak diketahui menggunakan sistem lama atau perangkat lunak yang belum diperbarui dengan perlindungan keamanan terbaru. Danfoss menjelaskan bahwa sejumlah produk telah mencapai akhir masa dukungan sehingga tidak lagi memperoleh pembaruan keamanan secara rutin. Kondisi tersebut meningkatkan risiko ketika perangkat pengendali dapat diakses langsung melalui internet tanpa perlindungan memadai. Para pakar keamanan siber menilai kelemahan pengelolaan perangkat dan pembaruan sistem kemungkinan berperan dalam mempermudah serangan. Namun, mekanisme pasti yang digunakan pelaku masih menjadi bagian dari penyelidikan otoritas terkait.
Pemerintah Prancis bergerak cepat dengan melibatkan Badan Keamanan Siber Nasional atau ANSSI untuk menyelidiki serangan tersebut. Perdana Menteri Sebastien Lecornu meminta lembaga terkait melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem yang terdampak sekaligus menilai kemungkinan ancaman terhadap sektor lainnya. Kantor kejaksaan Paris juga membuka penyelidikan pidana untuk mengidentifikasi pelaku serta menentukan hubungan antara serangan digital dan kerugian fisik yang dialami supermarket. Hingga perkembangan terbaru, belum ada kelompok peretas yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Tidak ditemukan pula tuntutan pembayaran uang tebusan yang biasanya muncul dalam sejumlah serangan siber bermotif finansial. Ketiadaan tuntutan tersebut membuat penyidik masih mendalami kemungkinan motif sabotase maupun tindakan lain yang belum dapat dipastikan.
Persoalan lain yang muncul adalah ketidakpastian mengenai perlindungan asuransi terhadap kerugian akibat serangan siber. Sejumlah perusahaan asuransi menjelaskan bahwa polis keamanan digital umumnya menanggung biaya penyelidikan dan pemulihan sistem, tetapi tidak selalu mencakup kerusakan barang secara fisik. Akibatnya, supermarket yang kehilangan makanan segar dan produk beku berpotensi harus menanggung sebagian besar kerugiannya sendiri. Situasi tersebut memunculkan perdebatan mengenai tanggung jawab pengelola supermarket, penyedia perangkat lunak, dan perusahaan asuransi dalam menghadapi ancaman digital. Para pelaku industri juga mulai mempertimbangkan perlindungan tambahan untuk barang yang membutuhkan penyimpanan pada suhu tertentu. Insiden ini diperkirakan mendorong peningkatan perhatian terhadap standar keamanan perangkat yang digunakan dalam rantai pasokan makanan.
Serangan terhadap sistem pendingin supermarket di Prancis menjadi peringatan mengenai meningkatnya ancaman siber terhadap perangkat fisik yang terhubung dengan internet. Teknologi pengendalian jarak jauh memang membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membuka risiko apabila sistem tidak dilengkapi perlindungan keamanan yang memadai. Para pengelola fasilitas penyimpanan makanan perlu memastikan perangkat lunak selalu diperbarui, akses jaringan dibatasi, dan aktivitas sistem dipantau secara berkala. Pemerintah Prancis juga terus berkoordinasi dengan otoritas keamanan siber di negara-negara Eropa karena gangguan serupa dilaporkan muncul di beberapa wilayah lain. Penyelidikan terhadap identitas pelaku dan besarnya kerugian masih berlangsung, sementara supermarket terdampak berupaya memulihkan layanan kepada pelanggan. Peristiwa ini menegaskan bahwa keamanan siber kini bukan hanya persoalan perlindungan data, melainkan juga bagian penting dari keselamatan pangan dan keberlangsungan aktivitas ekonomi.