Jakarta, 6 Mei 2026 – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih menunjukkan pelemahan pada perdagangan terkini. Mata uang Garuda tercatat berada di level tinggi terhadap dolar AS, mencerminkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda di pasar keuangan.
Menurut Bank Indonesia (BI), pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor global, termasuk kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi ini mendorong investor global untuk mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Selain itu, permintaan terhadap dolar AS yang meningkat di pasar domestik juga turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Kebutuhan impor serta pembayaran utang luar negeri menjadi salah satu faktor yang memicu tingginya permintaan valuta asing.
BI menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penguatan koordinasi dengan pemerintah. Upaya ini bertujuan menjaga agar volatilitas nilai tukar tetap terkendali.
Di sisi lain, para analis menilai bahwa pelemahan rupiah masih berada dalam batas yang wajar, mengingat tekanan global yang cukup kuat. Namun, mereka mengingatkan pentingnya menjaga fundamental ekonomi agar nilai tukar dapat kembali stabil.
Dengan kondisi yang masih dinamis, pergerakan rupiah diperkirakan akan terus dipengaruhi oleh sentimen global. Pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan ekonomi internasional yang dapat berdampak pada nilai tukar.